Jumlah Rakaat Shalat Witir

  • 5 Years ago

Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang jumlah rakaat shalat Witir Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah:

Dari ‘Abdullah bin Abi Qais radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا بِكَمْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوْتِرُ قَالَتْ كَانَ يُوْتِرُ بِأَرْبَعٍ وَثَلَاثٍ وَسِتٍّ وَثَلَاثٍ وَثَمَانٍ وَثَلَاثٍ وَعَشْرٍ وَثَلَاثٍ وَلَمْ يَكُنْ يُوْتِرْ بِأَنْقَصَ مِنْ سَبْعٍ وَلَا بِأَكْثَرَ مِنَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ.

“Saya berkata kepada ‘Aisyah, Berapa (rakaat) kebiasaan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam hal mengerjakan shalat Witir? Beliau menjawab, Adalah beliau mengerjakan shalat Witir sebanyak empat dan tiga (rakaat), sebanyak enam dan tiga (rakaat), sebanyak delapan dan tiga (rakaat), serta sebanyak sepuluh dan tiga (rakaat). Beliau tidaklah pernah mengerjakan shalat Witir sebanyak kurang dari tujuh (rakaat) dan tidak (pula) lebih dari tiga belas (rakaat).’. [1]

Dari Abu Ayyub Al-Anshâry radhiyallâhu ‘anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بَثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوْتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

“Shalat Witir adalah haq atas setiap muslim, maka barangsiapa yang suka mengerjakan shalat Witir sebanyak lima (rakaat), hendaknya ia kerjakan, barangsiapa yang suka mengerjakan shalat Witir sebanyak tiga (rakaat), hendaknya ia kerjakan, dan barangsiapa yang suka mengerjakan shalat Witir sebanyak satu (rakaat), hendaknya ia kerjakan.” [2]

Dari dua hadits di atas dan beberapa hadits yang akan datang, diketahui bahwa, dari perbuatan beliau, pelaksanaan shalat Witir Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidaklah kurang dari tujuh rakaat dan tidak lebih dari tiga belas rakaat. Beliau juga menuntun melalui lisan beliau tentang pembolehan pelaksanaan shalat Witir sebanyak lima, tiga, dan satu rakaat.

 

Shalat Witir Satu Rakaat

Berdasarkan hadits Abu Ayyub di atas dan hadits-hadits lain, pelaksanaan shalat Witir satu rakaat adalah boleh menurut jumhur ulama dari kalangan shahabat, tabi’in, dan imam yang mengikuti mereka dengan baik.

 

Simpulan Cara Pelaksanaan Shalat Witir

Adapun bentuk pelaksanaannya adalah sebagai berikut.

–          Bila sebelas dan tiga belas rakaat, shalat Witir dikerjakan dengan cara bersalam (mengakhiri salam) setiap dua rakaat, dan ditambah satu rakaat.

–          Bila sembilan rakaat, shalat Witir dikerjakan dengan cara dua kali tasyahhud, yaitu bertasyahhud pada rakaat kedelapan tanpa bersalam, kemudian langsung berdiri untuk mengerjakan rakaat kesembilan, lalu bertasyahhud kemudian bersalam.

–          Bila tujuh rakaat, boleh dikerjakan dengan cara tidak bertasyahhud, kecuali pada rakaat terakhir kemudian bersalam, dan boleh bertasyahhud pada rakaat keenam tanpa bersalam, lalu melanjutkan pelaksanaan rakaat ketujuh, kemudian bertasyahhud dan bersalam.

–          Bila lima rakaat, dikerjakan dengan cara tidak bertasyahhud tasyahhud, kecuali pada rakaat terakhir kemudian bersalam.

–          Bila tiga rakaat, boleh dikerjakan dengan dua cara, dengan ketentuan bahwa pelaksanaan shalat tersebut tidak menyerupai shalat Maghrib menurut pendapat yang lebih kuat, yaitu:

  1. Mengerjakan tiga rakaat sekaligus dengan sekali salam.
  2. Mengerjakan dua rakaat lalu bersalam, kemudian berdiri lagi untuk mengerjakan satu rakaat lalu bersalam.

–          Bila satu rakaat, tentunya dikerjakan dengan satu kali bersalam.

Pembahasan jumlah rakaat shalat Witir ini telah diterangkan oleh Ibnu Rajab secara meluas dan mendetail, lengkap dengan uraian perbedaan pendapat para ulama. Simpulan ringkas di atas adalah simpulan dari keterangan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam pembahasan ini, dan penyebutan uraian dalil-dalil terhadap sebagian kaifiyah di atas akan berlalu. Wallâhu Ta’âlâ A’lam.[3]



[1] Diriwayatkan oleh Ahmad 6/149, Ishâq bin Râhawaih 3/no. 1667, Abu Dâud no. 1362, Ath-Thahâwy 1/285, Al-Baihaqy 3/28, dan lain-lain. Sanadnya jayyid menurut Syaikh Al-Albâny dalam Shalâtut Tarâwîh hal. 83-84 (cet. kedua), dan dihasankan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jâmi’ Ash-Shahîh 2/162-163.

[2] Diriwayatkan oleh Abu Dâud, An-Nasâ`iy, Ibnu Mâjah, dan lain-lain. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Shalâtut Tarâwîh hal. 84 (cet. kedua), dan dihasankan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jâmi’ Ash-Shahîh 2/163. Dalam Fathul Bâry, Ibnu Rajab menyebutkan bahwa Abu Hâtim, An-Nasâ`iy, Al-Atsram, dan lain-lain menguatkan riwayat hadits ini secara mauquf.

[3] Bacalah pembahasan jumlah rakaat shalat Witir di atas dalam Al-Istidzkâr 2/106-107, Fathul Bâry 6/198-210 karya Ibnu Rajab, Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/18-21 karya Ibnu ‘Utsaimin, Al-Mughny 2/578 dan 588, Bidâyatul Mujtahid 1/200, Tharhut Tatsrîb 3/78, dan Nailul Authâr 3/36-40.

  • facebook
  • googleplus
  • twitter
  • linkedin
  • linkedin
Previous «
Next »

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

78 − = 73