Waktu Pelaksanaan Shalat Lail dan Tarawih

  • 5 Years ago

Awal Waktu

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh berkata, “(Yang termasuk) sunnah dalam shalat Tarawih (adalah) dilaksanakan setelah shalat Isya sebagaimana kesepakatan salaf dan para imam …, dan tidaklah para imam mengerjakan shalat (Tarawih) kecuali setelah Isya pada masa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafâ` Ar-Râsyidîn. Di atas hal inilah para imam kaum muslimin (bersepakat)….” [1]

Ibnul Mundzir juga berkata, “Ahlul ‘Ilmi telah bersepakat bahwa (waktu) antara shalat Isya sampai terbitnya fajar adalah waktu untuk (shalat) Witir.”

Maka ukuran awal waktu pelaksanaan qiyâm adalah setelah shalat Isya, baik shalat Isya-nya pada awal, pertengahan atau akhir waktunya.

 

Awal Waktu bagi Musafir yang Telah Menjamak Shalat

Demikian pula -menurut keterangan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan selainnya- bahwa shalat Tarawih boleh dilaksanakan oleh seorang musafir bila ia telah menjamak taqdim shalat Isya dan shalat Maghrib.

Hal ini berdasarkan hadits Abu Bashrah radhiyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلَاًة وَهِيَ الْوِتْرُ فَصَلُّوْهَا فِيْمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلَاةِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Allah telah menambahkan suatu shalat untuk kalian, yaitu Witir, maka laksanakanlah shalat itu antara shalat Isya sampai Shubuh.” [2]

Juga dalam hadits Khârijah bin Hudzâfah radhiyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَمَدَّكُمْ بِصَلَاةٍ وَهِيَ خَيْرُ لَكُمْ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ وَهِيَ الْوِتْرُ فَجَعَلَهَا لَكُمْ فِيْمَا بَيْنَ الْعِشَاءِ إِلَى طُلُوْعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah melapangkan kalian dengan suatu shalat yang lebih baik daripada unta merah bagi kalian, yaitu shalat Witir. (Allah) telah menjadikan (shalat) tersebut untuk kalian (agar dikerjakan) antara Isya sampai fajar terbit.” [3]

 

Pendapat Lemah

Ada satu sisi pendapat lemah di kalangan pengikut madzhab Syâfi’iyyah juga fatwa sebagian orang-orang belakangan dari kalangan Hanbaliyah yang menyatakan kebolehan mengerjakan shalat Witir sebelum pelaksanaan shalat Isya. Tentunya hal itu adalah pendapat yang sangat lemah, bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Barangsiapa yang mengerjakan (shalat Tarawih) itu sebelum (mengerjakan shalat) Isya, ia telah menempuh jalan para pengikut bid’ah yang menyelisihi sunnah.”

 

Kalau Shalat Witir Dikerjakan Sebelum Melaksanakan Shalat Isya dalam Keadaan Lupa

Namun, para ulama berselisih pendapat tentang orang yang mengerjakan shalat Witir sebelum melaksanakan shalat Isya dalam keadaan lupa atau ia menyangka telah melaksanakan shalat Isya, apakah shalat Witirnya diulang kembali atau tidak?

Ada dua pendapat di kalangan ulama:

  1. Diulangi kembali. Ini adalah pendapat jumhur ulama, yakni Al-Auzâ’iy, Mâlik, Asy-Syâfi’iy, Ahmad, Abu Yusuf, Muhammad, dan lain-lain.
  2. Tidak diulangi. Ini adalah pendapat Sufyân Ats-Tsaury dan Abu Hanîfah.

Tarjih

Tidak diragukan bahwa yang lebih kuat adalah pendapat pertama berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan.

 

Akhir Waktu

Para ulama bersepakat bahwa seluruh malam sampai fajar Shubuh terbit adalah waktu pelaksanaan shalat Witir. Namun, ada perselisihan pada batasan akhir waktu shalat Witir, dan ada beberapa pendapat di kalangan ulama:

  1. Akhir waktunya adalah sampai fajar Shubuh terbit. Ini adalah pendapat Sa’îd bin Jubair, Makhul, ‘Athâ`, An-Nakha’iy, Ats-Tsaury, Abu Hanifah, serta riwayat yang paling masyhur dari Asy-Syâfi’iy dan Ahmad. Pendapat ini diriwayatkan pula dari ‘Umar, Ibnu ‘Umar, Abu Musâ, dan Abu Dardâ` radhiyallâhu ‘anhum.
  2. Akhir waktunya adalah sepanjang seseorang belum melaksanakan shalat Shubuh, meskipun fajar Shubuh telah berlalu. Ini adalah pendapat Al-Qâsim bin Muhammad, Mâlik, Asy-Syâfi’iy -dalam madzhab terdahulunya- dan salah satu riwayat dari Ahmad. Ini juga merupakan pendapat Ishâq bin Râhawaih, Abu Tsaur, dan lain-lain. Pendapat ini diriwayatkan pula dari ‘Ali, Ibnu Mas’ud, ‘Ubâdah bin Shamid, Hudzaifah, dan lain-lain.

Tarjih

Yang lebih kuat adalah pendapat pertama karena dua hadits yang penyebutannya telah berlalu di atas sangatlah tegas menunjukkan bahwa akhir waktu pelaksanaan shalat Witir adalah sampai fajar shubuh terbit. Selain itu, dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhumâ, ketika ditanya tentang kaifiyah shalat Lail, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيْتَ الصَّبْحَ فَصَلِّ رَكْعَةً وَاجْعَلْ آخِرَ صَلَاتِكَ وِتْرًا

“(Shalat malam dikerjakan sebanyak) dua (raka’at)-dua (raka’at). Apabila engkau khawatir bahwa waktu shubuh (telah masuk), kerjakanlah shalat sebanyak satu raka’at dan jadikanlah akhir shalatmu (sebagai shalat) witir.” [4]

Adapun pendapat kedua, Ibnu Rajab menyebutkan beberapa dalil, yang menjadi landasan mereka, dan menerangkan kelemahan dalil tersebut, kemudian menyatakan, “Di atas anggapan bahwa hadits-hadits ini shahih atau sebagiannya (shahih), maka maknanya diarahkan kepada (pembolehan untuk) mengqadha shalat Witir setelah waktunya berlalu, yaitu malam hari, bukan menunjukkan bahwa masih (ada) waktu (untuk mengerjakan shalat Witir) setelah fajar (Shubuh).”

Patut untuk dicermati bahwa, pada halaman sebelumnya, dari Ibnu ‘Abdil Barr, beliau juga menyebutkan bahwa mungkin maksud yang diinginkan oleh orang-orang yang memberikan pendapat kedua, tentang pembolehan pelaksanaan shalat Witir setelah fajar terbit, adalah bagi orang yang lupa mengerjakan shalat Witir, bukan untuk orang yang sengaja mengakhirkan shalat Witir sampai waktu shalat tersebut berlalu.[5]

 

Pembahasan Qadha shalat Witir[6]

Dalam pembahasan qadha shalat Witir, memang ada persilangan pendapat di kalangan ulama, namun, secara umum, simpulan Ibnu ‘Abdil Barr dan Ibnu Rajab di atas adalah sangat tepat dan sejalan dengan hadits Abu Sa’îd Al-Khudry radhiyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَامَ عَنْ وِتْرِهِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّهِ إِذَا ذَكَرَهُ

“Barangsiapa yang tertidur dari shalat Witirnya atau lupa mengerjakan (shalat Witir)nya, hendaknya ia mengerjakan shalat tersebut bila ia mengingat shalat itu.” [7]

Adapun orang yang berudzur sehingga belum melaksanakan shalat Witir sampai shalat Shubuh, ia mengqadha shalat Witirnya setelah matahari terbit dengan menggenapkan jumlah kebiasaan shalat Witirnya. Bila kebiasannya adalah shalat Witir tiga raka’at, ia menggenapkan menjadi empat raka’at. Jika kebiasaannya adalah lima raka’at, ia menggenapkan menjadi enam raka’at, dan seterusnya. Hal tersebut berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

وَكَانَ إِذَا غَلَبَهُ نَوْمٌ أَوْ وَجْعٌ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Bila didominasi oleh tidur atau sakit terhadap (pelaksanaan) qiyamul lail, beliau mengerjakan shalat dua belas raka’at pada waktu siang.” [8]

 



[1] Majmû’ Al-Fatâwâ 23/119-220.

[2] Diriwayatkan oleh Ahmad 6/7, 397, Ath-Thahâwy dalam Syarh Ma’âni Al-Atsâr 1/430, Ibnu Qâni dalam Mu’jam Ash-Shahâbah 1/150-151, Al-Hârits bin Abi Usâmah no. 229 –Zawâ`id Al-Haitsâmy-, dan Ath-Thabarâny 2/no. 2167. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah no. 108.

[3] Diriwayatkan oleh Abu Dâud no. 1418, At-Tirmidzy no. 452, Ibnu Mâjah no. 1168, Ad-Dârimy no. 1/446, Ath-Thahâwy 1/430, Ad-Dâraquthny 2/30, Al-Hâkim 1/448, Ath-Thabarâny 4/no. 4136, dan Al-Baihaqy 2/477. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Al-Irwâ` no. 423 dengan seluruh jalan-jalannya. Baca jugalah Fathul Bâry karya Ibnu Rajab 6/235.

[4] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry no. 472, 473, 990, 993, 995, 1137, Muslim no. 749, Abu Dâud no. 1326, At-Tirmidzy no. 437, An-Nasâ`iy 3/227-228, 233, dan Ibnu Mâjah no. 1318-1320.

[5] Tentang pembahasan awal dan akhir waktu pelaksanaan qiyamul lail di atas, silakan membaca Al-Istidzkâr 2/117-118, Bidâyatul Mujtahid 1/202-203, Al-Majmû’ 3/518, Syarh Muslim 6/30-31, Tharhut Tatsrîb 3/79-80, Al-Mughny 2/595-596, Majmû’ Al-Fatâwâ 23/119-121 karya Ibnu Taimiyah, Fathul Bâry 6/234-243 karya Ibnu Rajab, Al-Inshâf 2/181, Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/15-16, dan Nailul Authâr 3/45-46.

[6] Untuk pembahasan ini, silakan memeriksa Majmû’ Al-Fatâwâ 23/89-91, Fathul Bâry 6/243-247 karya Ibnu Rajab, Syarhus Sunnah 4/88-89, dan Nailul Authâr 3/52-53.

[7] Diriwayatkan oleh Ahmad 3/31, Abu Dâud no. 1431, At-Tirmidzy no. 464, Ibnu Mâjah no. 1188, Ad-Dâraquthny 2/22, Ibnu Syâhîn dalam An-Nâsikh Wal Mansûkh no. 215, Al-Hâkim 1/443, Al-Baihaqy 2/480, dan lain-lain. Dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jâmi’ Ash-Shahîh 2/168.

[8] Diriwayatkan oleh Muslim no. 746, Abu Dâud no. 1342, At-Tirmidzy no. 1342, dan An-Nasâ`iy 3/259.

  • facebook
  • googleplus
  • twitter
  • linkedin
  • linkedin
Previous «
Next »

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 4 =