Share:

Home » Featured, Tulisan » Wasiat-Wasiat Berharga dari Merenungi Nikmat Allah (Tulisan)

Bookmark and Share

Wasiat-Wasiat Berharga dari Merenungi Nikmat Allah

(Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1433 H)

 

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْـدُ ..

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Amma Ba’du,

Kaum Muslimin dan Muslimat, Jamaah shalat Id yang berbahagia!

Pada pagi hari yang berbahagia ini, kita semua berkumpul dengan suatu kegembiraan akan karunia dan rahmat Allah, menyaksikan suatu hari yang sangat agung, salah satu simbol Islam yang besar: Hari Idul Fitri.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ

“Bagi tiap-tiap umat, Kami telah menetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan.” [Al-Hajj: 67]

Ibnu ‘Abbâs menafsirkan bahwa setiap umat dijadikan suatu Id untuknya. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarîr Ath-Thabary.

Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mendatangi kota Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari yang mereka bergembira pada dua hari tersebut pada masa Jahiliyah. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ النَّحْرِ

“Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari itu untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya: hari Idul Fitri dan hari An-Nahr (Idul Adha).” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasâ`iy]

Oleh karena itu, berbahagialah dengan nikmat hari Idul Fitri ini. Bersyukurlah kepada Allah atas segala karunia yang tidak mungkin kita jumlah dan atas berbagai nikmat yang tiada terhingga dan terbilang.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu membilangnya.” [Ibrâhîm: 34]

 

Wahai Umat Islam,

Bersyukur akan nikmat Allah adalah suatu kewajiban yang merupakan lambang penghambaan dan mahligai ‘ubûdiyyah kepada Allah. Allah Ta’âlâ memerintah,

وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan syukurilah nikmat Allah jika kalian menyembah hanya kepada-Nya semata.” [An-Nahl: 114]

Kesyukuran akan nikmat adalah hal yang menambah nikmat dan karunia Allah sebagaimana yang Allah ingatkan dalam firman-Nya,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga) tatkala Rabb kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian. Namun, jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.’.” [Ibrâhîm: 7]

Siapa saja yang bersyukur akan nikmat Allah tidak perlu khawatir terhadap musibah dan siksaan karena Allah telah menjamin sebagaimana dalam firman-Nya,

مَا يَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

“Mengapa Allah akan menyiksa kalian jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” [An-Nisâ`: 147]

 

Kaum muslimin dan muslimat,

Pada hari Idul Fitri yang bergelimang nikmat ini, marilah kita merenungi dan mengingat-ingat berbagai nikmat agung, yang dengannya Allah memuliakan kita, sebelum datang suatu hari saat segala nikmat Allah akan dipertanyakan. Allah Ta’âlâ mengingatkan,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian, kalian pasti akan ditanyai pada hari (kiamat) tentang segala kenikmatan (di dunia).” [At-Takâtsur: 8]

 

Salah satu nikmat-nikmat itu adalah nikmat keislaman dan keimanan. Janganlah sekali-kali mencari pedoman dan tuntunan hidup dari selain Islam karena Allah telah menyempurnakan segala nikmat dalam syariat Islam ini,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, serta telah Ku-ridhai Islam sebagai agama kalian.” [Al-Mâ`idah: 3]

Pelajari dan renungilah keindahan Islam yang merupakan satu-satunya agama penyelamat di dunia dan di akhirat, serta janganlah sekali-kali mengharap pedoman dan solusi, kecuali dari syariat Islam,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, sekali-kali tidaklah (agama itu) akan diterima darinya, dan di akhirat dia tergolong sebagai orang-orang yang rugi.” [Âli ‘Imrân: 85]

 

Di antara nikmat Allah yang banyak dilalaikan oleh manusia adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi Yusuf ‘alaihis salâm mengingatkan,

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ذَلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

“Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Tiadalah kami (para Nabi) patut mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (kepada-Nya).” [Yûsuf: 38]

Oleh karena itu, bersyukurlah kepada Allah dengan memurnikan segala ibadah hanya untuk-Nya,

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Oleh karena itu, hendaklah hanya kepada Allah semata engkau menyembah, dan hendaklah engkau tergolong sebagai orang-orang yang bersyukur.”“ [Az-Zumar: 66]

Ketahuilah, bahwa dalam memurnikan ibadah kepada Allah, terdapat cahaya dalam kehidupan dan jaminan kebahagian di dunia dan akhirat sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya Kami akan memberi kehidupan yang baik kepadanya dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa-apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 97]

Ingatlah, hanya dalam pemurnian ibadah kepada Allah-lah, tercipta keamanan dan ketenangan hidup bagi orang-orang yang ingin terlepas dari belenggu makhluk dan syaithan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’âm: 82]

Berdoalah hanya kepada Allah!

Mohonlah perlindungan kepada Allah saja!

Tuluskan nadzar dan penyembelihan hanya untuk Allah!

Berharaplah hanya kepada-Nya semata!

Gantungkanlah segala masalah dan gundah gulana kehidupan hanya kepada Allah Yang Mencukupi hamba-Nya,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, serta hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb alam semesta, tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” [Al-An’âm: 162-163]

Berhati-hatilah terhadap perbuatan kesyirikan. Kesyirikan adalah penghancur kenikmatan dan dosa terbesar yang akan mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka. Allah Subhânahu mengingatkan,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya, barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan surga kepadanya, sedang tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” [Al-Mâ`idah: 72]

Memalingkan ibadah kepada selain Allah adalah kehancuran terhadap seorang hamba. Allah menegaskan,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” [Al-Hajj: 31]

Bahkan, keberadaan kesyirikan di tengah manusia adalah ancaman terhadap sebuah negeri dan penduduknya menuju malapetaka dan kebinasaan. Allah mengingatkan,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا. لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا. تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا. أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا. وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا.

“Dan mereka berkata, ‘Ar-Rahmân (Allah Yang Maha Pemurah) mengambil (mempunyai) anak.’ Sesungguhnya kalian telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah, karena ucapan itu, serta bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, sebab mereka menyerukan bahwa Ar-Rahmân mempunyai anak. Padahal, Ar-Rahmân tidaklah layak mengambil (mempunyai) anak. [Maryam: 88-92]

 

Kaum Muslimin dan Muslimat, rahimani wa rahimakumullah!

Di antara nikmat Allah yang patut kita syukuri adalah sesuatu yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan ingatlah (wahai para Muhajirin) ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Makkah). Kalian takut bila orang-orang (Makkah) akan menculik kalian maka Allah memberi kalian tempat menetap (Madinah), dan Dia menjadikan kalian kuat dengan pertolongan-Nya, serta Dia melimpahkan rezeki kepada kalian berupa yang baik-baik agar kalian bersyukur.” [Al-Anfâl: 26]

Oleh karena itu, Allah memerintah dengan mengingatkan nikmat-Nya itu dalam firman-Nya,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ.

“Dan berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu (pada masa Jahiliyah) kalian bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian orang-orang yang bersaudara karena nikmat Allah; juga kalian telah berada di tepi jurang neraka, tetapi Allah menyelamatkan kalian dari (neraka) itu. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.” [Âli ‘Imrân: 103]

Agama kita satu, Rabb yang kita sembah hanyalah satu , dan kiblat kita juga satu. Hindarilah segala bentuk perpecahan dan perselisihan, baik berupa kesukuan, kelompok, maupun persekutuan.

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ.

“Dan janganlah kalian tergolong sebagai orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa-apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Rûm: 31-32]

 

Di antara nikmat Allah kepada manusia adalah adanya sebagian dari mereka yang menjaga sebagian yang lain. Allah Subhanahu mengingatkan,

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ.

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia terhadap sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas alam semesta.” [Al-Baqarah: 251]

Ada dua tonggak pengaman di tengah manusia: pemerintah dan ulama.

Imam Sahl bin Abdillah At-Tastury berkata, “Manusia akan terus menerus berada di atas kebaikan selama mereka masih mengagungkan Sulthan dan Ulama. Tatkala mereka mengagungkan keduanya, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Apabila mereka menghinakan keduanya, mereka telah merusak dunia dan akhirat mereka sendiri.” [Tafsîr Al-Qurthuby 5/260-261]

Oleh karena itu, hargailah pemimpin dan pemerintah kalian sebagaimana wejangan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا ، أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang memuliakan sulthan Allah di dunia, Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. (Namun) barangsiapa yang menghinakan sulthan Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Ash-Shahîhah]

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang membenci sesuatu (yang ada) pada pemimpinnya, hendaknya dia bersabar, karena siapa yang keluar terhadap sulthan sejengkal kemudian dia mati, matinya adalah mati jahiliyah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abdullah bin ‘Abbâs]

Bukanlah hal terlarang bila memberi nasihat kepada penguasa, tetapi bukan dengan cara ribut-ribut dan keonaran, bukan pula dengan cara berteriak-teriak di jalan dan menzhalimi manusia.

Kewajiban untuk memberi nasihat adalah terhadap orang yang berakal sesuai dengan etika dan ketentuannya. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang menasihati penguasa, janganlah dia menampakkan (nasihat itu) secara terang-terangan, tetapi hendaknya dia mengambil tangan (penguasa tersebut) dan berduaan dengannya. Kalau (sang penguasa) menerima, itulah (yang diinginkan). Akan tetapi, jika (sang penguasa) menolak, dia telah menunaikan kewajibannya.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Âshim, Al-Hâkim, dan Al-Baihaqy]

Terhadap pemimpin untuk berlaku lembut terhadap rakyatnya dan menjaga segala kebaikan dan kemashlahatan mereka. Rasulullah mengingatkan,

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ

“Tidaklah seorang hamba diberi tanggung jawab oleh Allah dengan suatu tanggung jawab, kemudian dia tidak menjaganya secara tulus dan maksimal kecuali dia tidak akan mencium baunya sorga.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar. Lafazh hadits adalah milik Al-Bukhâry]

 

Kaum muslimin dan muslimat,

Juga ketahuilah kedudukan para ulama sebagai lentera umat dan pembimbing mereka menuju kepada jalan yang lurus. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyakanlah kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tiada mengetahui.” [Al-Anbiyâ`: 7]

Rasulullah bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkan (Al-Qur`an).” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dari Utsman bin Affan]

Keberadaan rumah tangga yang memberikan kesejukan antara satu dengan lainnya adalah suatu nikmat yang hendaknya dijaga. Hendaknya kepala rumah tangga tidak menelantarkan nikmat Allah dengan membiarkan ada kemungkaran di tengah rumah tangganya. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrîm: 6]

 

Kaum Muslimin dan Muslimat,

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kepada kita akan lima nikmat yang banyak dilalaikan. Beliau berpesan dalam sabdanya yang mulia,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah segera lima perkara sebelum (datang) lima perkara: waktu mudamu sebelum (datang) waktu tuamu, kesehatanmu sebelum (datang) sakitmu, kekayaanmu sebelum (datang) kefakiranmu, waktu luangmu sebelum (datang) waktu sibukmu, dan kehidupanmu sebelum (datang) kematianmu.” [Diriwayatkan oleh Al-Hâkim dan selainnya dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ. Dishahihkan oleh Al-Albany rahimahullâh]

 

Wahai Para Pemuda dan Pemudi harapan umat,

Tataplah kehidupan untuk masa depan, jadilah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan jadilah orang-orang yang berbekah di manapun kalian berada sebagaimana keberadaan yang Nabi Isa ‘alaihis salâm yang berkata,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ.

 “Dan Dia menjadikanku sebagai orang yang diberkahi di mana saja aku berada.” [Maryam: 31]

 

Wahai Kaum Muslimat!

Penghormatan dan penjagaan Islam kepada kaum perempuan adalah suatu nikmat yang sangat agung. Tidak pernah tercatat, dalam sejarah umat manapun, bahwa ada yang melebihi syariat Islam dalam hal pengagungan kepada kaum perempuan. Oleh karena itu, suatu hal yang sangat mengherankan bahwa banyak kaum muslimat yang berkiblat  kepada perempuan-perempuan kafir yang tidak pernah mengenal makna kehormatan. Allah telah memerintah,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal maka mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Ahzâb: 59]

 

Kaum Muslimin dan Muslimat,

Pada hari kemarin kita dimuliakan dengan bulan Ramadhan. Tiada terasa waktu terus bergulir, dan hari ini kita telah meninggalkan Ramadhan. Itulah hari-hari kehidupan yang terus berjalan tanpa henti menuju suatu yang pasti: kehidupan akhirat, yang di hadapan Allah kita akan berdiri,

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ.

“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang, pada waktu itu, kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan sempurna terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan, sedang sedikitpun mereka tidak dianiaya (dirugikan).” [Al-Baqarah: 281]

Perbaharuilah lembaran-lembaran kehidupan yang segala hasilnya akan kembali kepada kita juga,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ.

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, (pahalanya) untuk dirinya sendiri, sedangkan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. [Fushshilat: 46]

 

Wahai Umat Islam,

Bulan Ramadhan telah meninggalkan kita. Siapa saja yang beribadah kepada Allah, menegakkan shalat, puasa, dan zakat, membaca Al-Qur’an, serta amalan kebaikan hanya di bulan Ramadhan, sesungguhnya Ramadhan telah berlalu. Namun, siapa saja yang menegakkan ibadah-ibadah tersebut karena Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan Maha Kekal, serta Allah mencintai hamba yang telah menyelesaikan suatu ibadah kemudian menyambung ibadah tersebut dengan ibadah yang lain. Allah memerintah kepada Nabi-Nya,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ. وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ.

“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) lain, dan hanya kepada Rabb-mulah hendaknya engkau berharap. [Asy-Syarh: 7-8]

Hiasilah kehidupan dengan ibadah kepada Allah pada segala keadaan dan pada setiap waktu sebagaimana sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada, dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya (kebaikan itu) menghapus (kejelekan), serta berinteraksilah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dari Abu Dzarr]

 

Kaum muslimin dan muslimat!

Bersyukurlah kepada Allah akan nikmat ketenangan, keamanan, dan kecukupan.

Pada hari yang berbahagia ini, sejumlah kaum muslimin menghadiri hari Id ini dengan linangan air mata serta berbagai duka dan nestapa. Oleh karena itu, ulurkanlah tangan kebaikan dan tuangkanlah dari ketulusan hati kepada saudara-saudara seagama. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُون إِلّا بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidaklah kalian mendapat pertolongan dan kelapangan rezeki, kecuali dengan sebab (memperhatikan) orang-orang lemah di antara kalian.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Sa’d bin Abi Waqqâsh radhiyallahu ‘anhu]

Juga janganlah lupa kepada kaum muslimin di berbagai belahan dunia: di Suriah, Myanmar, dan selainnya yang diliputi oleh berbagai kesedihan. Curahkanlah doa dan bantuan untuk mereka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu)

Pada hari ini, marilah kita senantiasa menghargai nikmat Allah dengan menggunakan nikmat tersebut dalam hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Janganlah menggunakan nikmat Allah dalam dosa, maksiat, permusuhan, dan memutus silaturahim.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menjaga kita semua di atas segala nikmat dan melindungi kita dari segala musibah dan malapetaka.

Sebagaimana, kita bermohon kepada-Nya agar Dia menerima amalan puasa, shalat, zakat, sedekah, bacaan Al-Qur`an, dan segala amalan shalih, serta menjadikan amalan tersebut sebagai pembebas leher-leher kita dari api neraka.

Semoga, pada setiap tahunnya, kaum muslimin dan muslimat selalu berada di atas kebaikan dan ketakwaan, tergolong ke dalam Al-Fâ`izin ‘orang-orang yang beruntung’ dan Al-Â’idin ‘orang-orang yang terlahir kembali, bersih dari dosa’.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ، وَصَلَّى اللهُ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا مَزِيدًا.

Bookmark and Share

Artikel Lainnya :

8 Comments

  1. Siraj says:

    MasyaAllah, Semoga tersebar luar dan bermanfaat bagi kaum muslimin. Baarakallaahu fiikum, Ustaadzunaa.

  2. Ummu 'Abdullah says:

    Bismillahirrahmaanirrahiim.
    Jazaakallahu khayran, yaa ustadz

  3. Abdul Menan says:

    بسم الله

    mohon ijin menyebarluaskan tulisan/naskah khutbah ‘ied di atas dg menyebutkan laman sumber

    والحمد لله رب العالمين

  4. Muhammad Juslam says:

    Alhamdulillah, saya sangat senang dengan adanya website ini. Semoga Allah memberkati crew dan semua yang terlibat dalam mengelola website ini.

  5. abu ghifar says:

    jazzakallahu khairan katsiran
    semoga allah merahmatimu ya ustadz..begitu pula terhadap kami semua

  6. silahuddin says:

    Di Audionya; diawali dengan takbir, tapi ditulisanya dengan hamdalah.

    Apakah ada petunjuk dari As-sunnah tentang mengawali khutbah Ied, apakah harus dengan hamdalah atau boleh dengan yang lain?

  7. joe says:

    mohon ijinnya untuk mengambil

Leave a Reply

© 1434 H / 2013 Dzulqarnain.Net · Developed by Abu Fudhail Ulla · Powered by WordPress