Share:

Home » Featured, Renungan dari Ayat-Ayat Al-Qur`an » Perjalanan Hati Kepada Allah

Bookmark and Share

Perjalanan Hati Kepada Allah

Allah Ta’âlâ berfirman,

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” [At-Taubah: 112]

Jika ada yang bertanya, “Siapakah yang diberi kabar gembira dengan surga?”, maka jawabannya adalah orang-orang yang memiliki sifat seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.

Sebagaimana dalam ayat lain, diterangkan sifat-sifat perempuan yang paling shalihah. Yaitu pada Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

“Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kalian, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” [At-Tahrim: 5]

Ketika ayat ini turun, maka para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera kepada ketaatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka tidak diceraikan. Maka, jadilah para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perempuan yang paling baik di tengah umat ini., karena Allah tidak memilihkan untuk Nabi-Nya kecuali yang terbaik.

Salah satu sifat mereka yang diberi kabar gembira dengan surga dan sifat perempuan yang shalihah, adalah as-siyâhah (As-Sâ`ih atauh As-Sâ`ihah).

Asal makna as-siyâhah dalam bahasa Arab adalah bepergian di atas muka bumi. Bisa diartikan melawat, melakukan perjalanan, berkelana dan berkeliling.

Jumhur (mayoritas) ahli tafsir menjelaskan makna as-siyâhah pada kedua ayat di atas adalah orang yang berpuasa. (Ibnu Katsir dan banyak ahli tafsri menguatkan makna ini dan Ibnu Jarir tidak menyebutkan selainnya).

Ada juga yang menafsirkan as-siyâhah dengan, (1) orang yang berjihad, (2) orang yang berhijrah, (3) orang yang safar dalam mencari hadits dan ilmu, dan (4) orang bertafakkur terhadap tauhid dan kebesaran Allah. (Dirangkum dari beberapa buku tafsir)

As-siyâhah ditafsirkan sebagai orang yang berpuasa karena orang yang berpuasa meninggalkan kelezatan mereka sebagaimana orang yang melakukan perjalanan meninggalkan kelezatannya.

Ibnu ‘Uyainah berkata, “Seorang yang berpuasa disebut sebagai As-Sâ`ih karena dia meninggalkan segala kelezatan makan, minum dan kegiatan nikah.” (Tafsir Al-Baghawy)

Syaikh Abdurrahman As-Si’dy menyebutkan bahwa As-siyâhah adalah perjalanan hati dalam mengenal Allah dan mencintai-Nya serta terus menerus kembali kepada-Nya.

Tentu penafsiran Beliau adalah tergolong dari penafsiran yang sangat indah yang mengumpulkan berbagai penafsiran di atas. Tentu sangat dimaklumi bahwa dalam puasa terkandung perjalanan jiwa dalam mengenal Allah dan mencintainya, serta terdapat berbagai jenjang penghambaan yang agung.

Kenalilah dari keagungan puasa yang Allah syari’atkan!

Renungi dari pembahasaan ayat-ayat Al-Qur`an terhadap puasa, agar engkau lebih mendalami rahasia dan keindahan puasa!

Wallahu A’lam.

Bookmark and Share

Artikel Lainnya :

Leave a Reply

© 1434 H / 2013 Dzulqarnain.Net · Developed by Abu Fudhail Ulla · Powered by WordPress