Syariat Shalat Tarawih Secara Berjamaah

  • 5 Years ago

Ada beberapa hadits yang menunjukkan tentang syariat pelaksanaan shalat Tarawih secara berjamaah. Di antara hadits-hadits itu adalah sebagai berikut.

Dari Abu Dzar Al-Ghifâry radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

صُمْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئَا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ قَالَ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ قَالَ فَلَمَّا كَانَتِ الرَّابِعَةُ لَمْ يَقُمْ فَلَمَّا كَانَتِ الثَّالِثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ وَالنَّاسَ فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِيْنَا أَنْ يَفُوْتَنَا الْفَلَاحُ قَالَ قُلْتُ مَا الْفَلَاحُ قَالَ السَّحُوْرُ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا بَقِيَّةَ الشَّهْرِ

“Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak berdiri (untuk mengerjakan shalat Lail) bersama kami sedikit pun dari bulan itu, kecuali setelah tujuh hari tersisa, kemudian beliau berdiri (untuk mengimami) kami sampai sepertiga malam berlalu. Lalu, ketika malam keenam (dari malam yang tersisa,-pent.), beliau tidak berdiri (untuk mengimami) kami. Selanjutnya, saat malam kelima (dari malam yang tersisa,-pent.), beliau berdiri (untuk mengimami) kami sampai seperdua malam berlalu. Maka, saya berkata, Wahai Rasulullah, (akan menjadi lebih baik) andaikata engkau menjadikan qiyâm malam ini sebagai nafîlah (ibadah tambahan) untuk kami.’ Beliau pun bersabda, Sesungguhnya seorang lelaki, apabila mengerjakan shalat (Tarawih) bersama imam sampai selesai, ia terhitung mengerjakan qiyâm satu malam.’ Kemudian, ketika malam keempat (dari malam yang tersisa,-pent.), beliau tidak berdiri (untuk mengimami) kami. Lalu, saat malam ketiga (dari malam yang tersisa,-pent.), beliau mengumpulkan keluarganya, para istrinya, dan manusia lain lalu berdiri (untuk mengimami) kami sampai kami khawatir ketinggalan Al-Falâh. Saya –rawi dari Abu Dzar- bertanya, Apakah Al-Falâh itu?’ (Abu Dzar) menjawab, Waktu sahur.’ Selanjutnya, beliau tidak berdiri lagi (untuk mengimami) kami pada sisa bulan.” [1]

Dari Abu Thalhah Nu’aim bin Ziyad, beliau berkata, “Di mimbar Himsh, saya mendengar Nu’man bin Basyir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,

قُمْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ لَيْلَةَ ثَلَاثَ وَعِشْرِيْنَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ لَا نُدْرِكَ الْفَلَاحَ وَكَانُوْا يُسَمُّوْنَهُ السَّحُوْرَ

“Kami berdiri (untuk mengerjakan shalat) bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan saat malam kedua puluh tiga sampai sepertiga malam pertama, kemudian berdiri (untuk mengerjakan shalat) bersama beliau pada malam kedua puluh lima sampai seperdua malam, lalu berdiri (untuk mengerjakan shalat) bersama beliau pada malam kedua puluh lima sampai kami menyangka (bahwa kami) tidak mendapati Al-Falâh yang mereka namakan untuk waktu sahur.”.” [2]

Dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, beliau berkata,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ يَتَحَدَّثُوْنَ بِذَلِكَ فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَخَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةِ فَصَلُّوْا بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ يَذْكُرُوْنَ ذَلِكَ فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ فَصَلُّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجِزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطَفِقَ رِجَالٌ مِنْهُمْ يَقُوْلُوْنَ الصَّلَاةَ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ ثُمَّ تَشَهَّدَ فَقَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ شَأْنُكُمُ اللَّيْلَةَ وَلَكِنِّيْ خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ فَتَعْجَزُوْا عَنْهَا

“Sesungguhnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam keluar pada kegelapan malam, lalu mengerjakan shalat di masjid, maka sekolompok orang mengerjakan shalat (mengikuti pelaksanaan) shalat beliau. Kemudian, pada pagi hari, manusia membicarakan hal tersebut, maka berkumpullah mereka lebih banyak lagi, lalu keluarlah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam (untuk mengerjakan shalat) pada malam kedua, dan mereka pun mengerjakan shalat (mengikuti pelaksanaan) shalat beliau. Pada waktu pagi, manusia kembali menyebut hal tersebut, maka menjadi banyaklah penduduk masjid pada malam ketiga, lalu beliau keluar (untuk mengerjakan shalat), dan mereka mengerjakan shalat (mengikuti pelaksanaan) shalat beliau. Pada malam keempat, masjid sudah tidak mampu (memuat) jamaahnya, dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun tidak keluar untuk (mengimami) mereka, maka sekelompok orang dari mereka berteriak, Shalat!’ Tetapi Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak keluar untuk (mengimami) mereka sampai beliau keluar untuk mengerjakan shalat Shubuh. Tatkala menyelesaikan (shalat) Shubuh, beliau menghadap ke arah manusia kemudian bertasyahhud, lalu berkata, Amma Ba’du, sesungguhnya, tidaklah keadaan kalian pada malam ini luput terhadapku, tetapi aku khawatir (jika) shalat Lail akan diwajibkan atas kalian kemudian kalian pun lemah melaksanakannya.’. [3]

Dari hadits ini, telah diketahui sebab yang menjadikan shalat Tarawih pada bulan Ramadhan tidak dikerjakan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam terus menerus, yaitu karena kekhawatiran beliau jika shalat tersebut diwajibkan atas umatnya sehingga memberatkan mereka. Namun, kekhawatiran ini telah lenyap setelah beliau wafat dan agama telah sempurna. Oleh karena itu, sunnah ini dihidupkan oleh ‘Umar bin Khaththab radhiyallâhu ‘anhu.

Dari ‘Abdurrahman bin ‘Abd Al-Qâry, beliau berkata,

خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِيْ رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُوْنَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّيْ بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّيْ أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِيْ يَنَامُوْنَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِيْ يَقُوْمَوْنَ -يُرِيْدُ آخَرَ اللَّيْلِ- وَكَانَ النَّاسُ يُقُوْمُوْنَ أَوَّلَهُ

“Saya keluar bersama ‘Umar bin Khaththâb radhiyallâhu ‘anhu menuju ke masjid pada suatu malam pada Ramadhan, dan (kami mendapati bahwa) ternyata manusia (mengerjakan shalat secara) terbagi-bagi dan berpisah-pisah. Seseorang mengerjakan shalat secara sendirian, sementara orang lain mengerjakan shalat dan sekelompok orang (mengikuti pelaksanaan) shalatnya. Maka, ‘Umar berkata, Saya berpandangan bahwa, andaikata saya mengumpulkan mereka pada satu qari (imam), hal itu lebih tepat.’ Lalu, beliau berazam dan mengumpulkan mereka kepada Ubay bin Ka’ab. Kemudian, saya keluar bersama beliau pada malam lain dan (kami mendapati bahwa) manusia sedang mengerjakan shalat (mengikuti pelaksanaan) shalat qari mereka, maka ‘Umar berkata, Sebaik-baik bid’ah adalah hal ini, dan orang yang tidur dari hal ini lebih baik daripada orang yang menegakkannya.’ Yang beliau inginkan adalah bahwa orang-orang mengerjakan shalat pada akhir malam, padahal manusia menegakkannya pada awal malam.” [4]

Dalam ucapan “sebaik-baik bid’ah adalah ini”, Bid’ah yang ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu maksud adalah bid’ah secara bahasa karena beliau-lah yang pertama kali menghidupkan sunnah ini setelah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memberikan dasar tuntunan sunnah tersebut pada masa hidup Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Wallâhu A’lam.

Dalam Qiyâm Ramadhân hal. 21-22, Syaikh Al-Albâny berkata,

“Dan para perempuan disyariatkan untuk menghadirinya (jamaah Tarawih,-pent.) sebagaimana dalam hadits Abu Dzar yang telah berlalu, dan telah tsâbit ‘tetap, sah’ dari ‘Umar bahwa, tatkala mengumpulkan manusia untuk qiyâm, beliau menjadikan Ubay bin Ka’ab (sebagai imam) untuk (jamaah) laki-laki dan Sulaiman bin Abi Hatsmah (sebagai imam) untuk para perempuan. Dari ‘Arfajah Ats-Tsaqafy, beliau berkata, ‘Adalah ‘Ali bin Abi Thalib memerintah manusia untuk mengerjakan qiyâm Ramadhan, dan beliau menjadikan seorang imam untuk laki-laki dan seorang imam untuk perempuan.’ (‘Arfajah) berkata, ‘Saya adalah imam para perempuan.’

Saya berkata, ‘Menurutku, keadaan ini (dapat diterapkan) bila masjid tersebut luas sehingga salah satu dari keduanya tidak mengganggu yang lain.’.” [5]

 

Syariat Shalat Tarawih Hanya pada Bulan Ramadhan

Perlu diketahui bahwa shalat Tarawih ini hanya dikerjakan pada bulan Ramadhan berdasarkan keterangan ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ [6] bahwa shalat Tarawih secara berjamaah ini dilakukan oleh beliau pada bulan Ramadhan. Bertolak dari sini, tampaklah kesalahan sebagian orang yang sering melaksanakan qiyamul lail secara berjamaah di luar Ramadhan. Memang, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kadang mengerjakan qiyamul lail secara berjamaah di rumahnya bersama Ibnu ‘Abbas, pernah bersama Ibnu Mas’ud, dan pernah pula bersama Hudzaifah. Namun, beliau tidak mengerjakan hal tersebut terus menerus dan tidak pula mengerjakannya di masjid. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengerjakan qiyamul lail secara berjamaah di luar Ramadhan secara terus menerus atau mengerjakannya di masjid, tidak diragukan bahwa perbuatannya termasuk perkara bid’ah yang tercela. Demikian keterangan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. [7]



[1] Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzâq 4/254, Ibnu Abi Syaibah 2/164, Ahmad 5/159, 163, Ad-Dârimy 2/42, Ibnul Jârûd no. 403, Abu Dâud no. 1375, At-Tirmidzy no. 805, An-Nasâ`iy 3/83, Ibnu Mâjah no. 1327, Ibnu Abid Dunyâ dalam At-Tahajjud wa Qiyâmul Lail no. 402, Ath-Thahâwy dalam Syarh Ma’âni Al-Atsâr 2/349, Ibnu Khuzaimah no. 2206, Ibnu Hibbân no. 2547, Al-Baihaqy 2/494 dan dalam Syu’abul Îmân 3/178-179, dan Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhîd 8/112. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny, dalam Irwâ`ul Ghalîl 2/193/447, dan Syaikh Muqbil, dalam Al-Jâmi’ Ash-Shahîh 2/175.

[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/164, Ahmad 4/272, An-Nasâ`iy 3/203, Ibnu Khuzaimah 3/336/2204, Al-Hâkim 1/607, Ath-Thabarâny dalam Musnad Asy-Syâmiyin no. 2963, Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhîd 8/112-113, dan Al-Mizzy dalam Tahdzîbul Kamâl pada biografi Abu Thalhah Nu’aim bin Ziyad. Dihasankan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jâmi’ Ash-Shahîh 2/174.

[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry no. 729, 924, 1129, 2012, Muslim no. 761 (lafazh hadits milik beliau), dan Abu Dâud no. 1373.

[4] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry no. 2010.

[5] Dari Qiyâmu Ramadhân hal. 21-22.

[6] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry no. 1129, 2011, Muslim no. 761, Abu Dâud no. 1373, dan An-Nasâ`iy 3/202.

[7] Bacalah Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/82-83.

  • facebook
  • googleplus
  • twitter
  • linkedin
  • linkedin
Previous «
Next »

3 Comments Already

  1. Bismillah…..
    Asslamu’alaykum wa rohmatullahi wa barokatuh…

    Pertanyaan:

    1. Sholat berjama’ah pada sholat Taraweh apakah afdholnya di lakukan 1 bulan penuh atau hanya 10 hari terakhir…???

    2. Kapan waktu paling Afdhol utk sholat taraweh..?
    (Apakah ba’da Isya’ atau sepertiga malam..??)

    3. Ketika Sholat taraweh di masjid berjama’ah, apak boleh kita sholat witirnya di rumah, tapi nanti 1/3 malam..?? (mana yang Afdhol,)

    4. Unuk Akhwat/ Ummahat Afdholnya sholat taraweh di rumah atau di masjid..??

    Mohon penjelasan…

    Baarakallahu Fiykhum…

  2. Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. afwan ustadz… mau tanya untuk akhwat/ummahat baiknya melaksanakan sholat tarawih di masjid atau dirumahnya sendiri, berhubung masjid yg dekat dg rumah bersifat umum.

    mohon penjelasannya,
    barrakallahu fiykum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 70 = 71